konsep pendidikan menurut imam ghozali

Konsep Pendidikan Menurut Imam Ghazali A. Pandangan Al-Ghazali Tentang Pendidikan Al-Ghazali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan islam mengenai tujuan pendidikan. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada reaksi tujuan dari keagamaan akhlak, di mana fadhilah (keutamaan) dan taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sesuai dengan penegasan beliau: “Manakala seorang anak menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya ia menjaganya dari siksaan api neraka/akhirat, dengan cara mendidik dan melatihnya serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlak yang baik merupakan sifat Rasulullah SAW. (sayyidul mursalin) dan sebaik-baik amal perbuatan orang yang jujur, terpercaya, dan merupakan realisasi daripada buahnya ketekunan orang yang dekat kepada Allah.” Selanjutnya beliau mengatakan: “Wajiblah bagi seorang guru mengarahkan murid kepada tujuan mempelajari ilmu, yaitu taqarrub kepada Allah bukannya mengarah kepada pimpinan dan kemegahan.”[1] Pemikirannya tentang tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan kepada tiga: (1) Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah, (2) Tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlaq al-karimah, (3) Tujuan pendidikan Islam mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan ketiga tujuan ini diharapkan pendidikan yang diprogramkan akan mampu mengantarkan peserta didik pada kedekatan diri kepada Allah.[2] Menurutnya pendidik adalah orang yang berusha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya.[3] Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu, pendidik dalam perspektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknkya diarahkan pada aspek tazkiyah an-nafs. Seorang pendidik dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya. Di antara sifat-sifat tersebut adalah: 1. Sabar dalam menangggapi pertanyaan murid. 2. Senantiasa bersifat kasih, tanpa pilih kasih (objektif). 3. Duduk dengan sopan, tidak riya’ atau pamer. 4. Tidak takabbur, kecuali terhadap orang-orang yang dzalim dengan maksud mencegah tindakannya. 5. Bersikap tawadhu’ dalam setiap pertemuan ilmiah. 6. Sikap dan pembicaraan hendaknya tertuju pada topik persoalan. 7. Memiliki sifat bersahabat terhadap semua murid-muridnya. 8. Menyantuni dan tidak membentak orang-orang bodoh. 9. Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya. 10. Berani berkata tidak tahu terhadap masalah yang anda persoalkan. 11. Menampilkan hujjah yang benar. Apabila ia berada dalam kondisi yang salah, ia bersedia merujuk kembali kepada rujukan yang benar. Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah SWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah SWT sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabi’at dasarnya yang memang cenderung kepada agama tauhid (Islam). Untuk itu tugas seorang pendidik adalah membimbing dan mengarahkan fitrah tersebut agar ia tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya. Menurut al-Ghazali dalam menuntut ilmu, peserta didik memiliki tugas dan kewajiban, yaitu: (1) mendahulukan kesucian jiwa; (2) bersedia merantau untuk mencar ilmu pengetahuan; (3) jangan menyombongkan ilmunya dn menentang guru; (4) mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.[4] Dalam belajar, peserta didik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik senantiasa mensucikan jiwanya dengan akhlaq al-karimah. 2. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi. Sebagaimana dalam firman Allah SWT: äotÅzEzs9ur ׎öy{ y7©9 z`ÏB 4’n

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar